Empat Perdebatan Besar dalam Studi Hubungan Internasional

1476141726548
Billie Joe Armstrong is not related with this article. 

Studi Hubungan Internasional (SHI) telah menjadi kajian akademik formal semenjak 1919. SHI telah mengalami banyak perkembanagan baik secara epitomologis, ontologisme dan metodelogis.  Perubahan isu-isu di dalam politik dunia, globalisasi dan tren di dalam ilmu sosial sendiri telah memberikan pengaruh yang besar terhadap SHI. Hingga saat ini, telah terjadi empat perdebatan besar dalam SHI. Fokus perdebatan tersebut adalah seputar: apakah SHI tersebut berbicara tentang pemahaman (understanding) atau penjelasan (explanation) dan pendekatan apa yang sebaiknya digunakan dalam memahami ataupun menjelaskan suatu peristiwa. Hingga perdebatan ke empat, yang berlangsung pada dekade 80-90an, secara epistemologis SHI terbagi menjadi dua kelompok. Pertama adalah kelompok yang berusaha untuk menjelaskan fenomena HI melalui pendekatan saintifik, disebut juga sebagai kelompok positivis. Kedua adalah kelompok yang menolak pendekatan saintifik yang digunakan oleh kelompok pertama karena penelitian di dalam ilmu sosial cenderung bias dan tidak bebas nilai, yang disebut sebagai kelompok post-positivis.[1]

 

Salah satu perdebatan besar yang terjadi adalah pada dekade 1960an, yaitu antara upaya dalam “memahami” (understanding) dan upaya untuk menjelaskan (explaining) HI. Biasanya perdebatan ini disebut dengan Tradisionalis vs Behavioralis.[2] Kemunculan kelompok behavioralis mulai terlihat jelas pada Perang Dunia II, para ilmuan behavioralis pun memilki latar belakang yang berbeda-beda, seperti ilmu ekonomi, politik, dan bahkan matematika. Berbeda jelas dengan pemikir HI tradisionalis yang didominasi dari kalangan diplomat, ahli hukum internasional, sejarahwan dan politisi. Terdapat perbedaan objek penelitian yang dilakukan kelompok tradisionalis dan kelompok behavioralis, yaitu:

Tradisionalisme Behavioralisme
Understanding

1)    Norma dan nilai

2)    Penilaian (judgement)

3)    Pengetahuan bersifat historis

Explaining

1)    Mengumpulkan data

2)    Menguji hipotesis

3)    Pendekatan saintifik; kuantitatif

(Sumber: Robert Jackson & Georg Sørensen, 1999. Introduction to International Relations, Oxford: Oxford University Press)

Kelompok behavioralis yang berpijak pada pertanyaan “bisakah membuat hukum saintifik yang obyektif tentang hubungan antar manusia” melihat obyek penelitian mereka layaknya seorang ilmuan dari ilmu alam yang melakukan di laboratorium.[3] Mereka berada di luar obyek penelitiannya. Behavioralis menggunakan tahapan-tahapan penelitian yang sama dengan ilmuan eksata (mengumpulkan data, membuat hipotesis, dan menguji hipotesis untuk menghasilkan kesimpulan. Berbeda dengan kelompok tradisionalis yang memposisikan dirinya bersamaan dengan objek penelitiannya. Maka menurut tradisionalis penelitian tentang hubungan antar manusia tidak bisa terlepas terlepas dengan hal-hal seperti etika dan moralitas. Kelompok tradisionalis maupun behavioralis memiliki kelebihan dan kekurangan satu-sama lain, dalam pemahaman dan penjelasan yang keduanya bisa saling melengkapi. Namun, selama Perang Dingin, metode kuantitatif oleh kelompok behavioralis telah mendominasi SHI, terutama oleh ilmuwan HI di AS.

Selain itu, kemunculan neo-realisme dan neo-liberalisme didalam SHI juga dipengaruhi oleh analisa saintifik kelompok behavioralis.[4] Kemudian muncul perdebatan rasionalis dan reflektivis. Pemikiran tradisional seperti; realis, liberalis, dan marxis yang terus berkembang hingga munculnya perdebatan neo-neo yang disebut dengan rasionalitas, kemudian lahirlah teori penentang yang disebut reflektivis. Penggunakan kata rasionalis muncul karena melihat politik internasional layaknya dunia alami yang dapat terpengaruh pada sifat dasar manusia. Sedangkan reflektivitis berangkat dari pemikiran yang ingin membentuk politik internasional layaknya realita yang ada.[5] (Teori reflektivis terdiri dari beberapa teori, seperti: posmodernisme, feminisme, historical sociology, dan teori-teori kritis. Maka, dominasi dari rasionalisme semakin berkembang dan mengakibatkan perubahan dalam peta hubungan internasional (kebangkitan dari era post-positivis dan berkembangnya pendekatan yang rasionalitas dan reflektivitas yang disebut konstruktivisme sosial.

Pada dekade 80-90an, telah terjadi perdebatan keempat dalam SHI, yaitu antara postivis dan post-positivis. Positivis adalah paham yang terkait dengan upaya membangun pengetahuan dari “eksperimen-eksperimen, observasi, dan deduksi (menggunakan metode saintifik)”. Menurut posistivis, dunia adalah objek penelitian yang bisa diteliti secara objektif, bebas nilai dan tanpa melibatkan perasaan. Positivis menganggap bahwa tujuan teori adalah untuk menjelaskan (explanatory): “teori-teori adalah alat untuk menjelaskan dunia dan tergantung dengan bagaimana kecocokan mereka dengan realita, maka teori tersebut bisa dikatakan benar atau salah”.[6]

Dalam menentukan teori HI dapat dikatakan sebagai positivis atau tidak, menurut Kenneth Waltz terdapat sejumlah persyaratan untuk menentukannya dan persyaratan tersebut memiliki kemiripan dengan tes-tes yang dilakukan di laboratorium:[7]

  1. Pilih teori yang hendak diuji
  2. Lihat hipotesisnya
  3. Uji hipotesis dalam serangkaian tes pengamatan dan eksperimen
  4. Dalam melakukan langkah 2 dan 3, gunakan definisi-definisi yang terdapat di dalam teori yang sedang diuji
  5. Hilangkan variabel pengganggu
  6. Lakukan sejumlah percobaan dalam waktu yang berbeda
  7. Apabila tes tetap gagal lihat kembali apakah teori gagal sepenuhnya atau hanya memerlukan perbaikan, atau memerlukan penyempitan cakupan dari klaim-klaim penjelasnya.

            Pada akhirnya, Dominasi Post-Positivis mulai dipertanyakan oleh pendekatan-pendekatan lain (Post-Positivis) dan hal ini yan menjadi cikal bakal debat keempatdalam SHI. Fokus debat keempat ini diwakili oleh teori kritis, poststrukturalisme, postkolonialisme, feminisme, konstruktivisme dan green politic dimana berbicara mengenai hubungan antara teori dan realita. Post Positivis menganggap bahwa positivis tidak akan pernah bisa objektif dalam penelitiannya karena tidak pernah lepas dari nilai dan bias si peneliti. Kelompok Post-Positivistik menganggap keberadaan sebuah teori merupakan akibat dari pengakuan masyarakat dan mengganggap teori memiliki sifat konstitutif (constitutive).[8]Post Positivis memilki pendekatan yang berbeda-beda dan bahkan dalam setiap pendekatannya memilki variasinya sendiri, maka dari itu positivisme tidak dapat dilihat secara sebagai suatu kesatuan.

Positivisme Post positivisme
Metode saintifik dapat digunakan untuk menjelaskan fenomena sosial.

Pengetahuan obyektif yang didapat melalui pemodelan, teori ataupun konsep adalah kebenaran faktual.

Penelitian yang obyektif (bebas nilai) terhadap fenomena sosial sulit tercapai.

Fenomena sosial tidak bisa diteliti melalui pendekatann saintifik.

   
·         Realisme/neorealisme ·         Konstruktivisme
·         Liberalisme/neoliberalisme ·         Teori kritis
·         Neo-Marxisme (strukturalisme) ·         Feminisme
  ·         Post strukturalisme
  ·         Post kolonialisme
  ·         Green politics

Sumber:

[1] Chris Brown, 2001. Understanding International Relations, 2nd ed., New York: Palgrave

[2] Morton A. Kaplan, 1966. The New Great Debate: Traditionalism vs. Science in International Relations, World Politics, Vol. 19, No. 1.

[3] Robert Jackson & Georg Sørensen, 1999. Introduction to International Relations, Oxford: Oxford University Press

[4]Ibid.

[5] Smith, Steve, 2001. Reflectivist and constructivist approaches to international theory, dalam; John Baylis & Steve Smith (eds.) The Globalization of World Politics, 2nd edition, Oxford, Hal. 224-252.

[6] Andrew Heywood, 2011. Global Politics, London: Palgrave Macmillan.

[7]Ibid. Hal. 230. Lihat juga Yessi Olivia, 2013. Perkembangan Studi Hubungan Internasional. Jurnal Transnasional Vol 3, No 02 (2012). UNRI.

[8]Op. Cit.

Tinggalkan komentar